Sabtu, 25 Januari 2014
DESA BANYUURIP
DESA BANYUURIP
Banyuurip adalah desa terletak di kecamatan Banyuurip,kabupaten
Purworejo, provinsi Jawa Tengah, Indonesia. yang terbagi menjadi 5
pedukuhan: JURU TENGAH, KEMBARAN, SOROYASAN, DUKUH KULON DAN DUKUH WETAN
,Nama BANYUURIP memiliki arti : Air untuk kehidupan, Sejarah desa banyuurip berawal dari kisah seoarang yang bernama :
Nyi Putri Galuhwati dan Pangeran Joyokusumo (putra Brawijaya II) dalam
perjalanannya diusir dari Majapahit karena Pangeran Joyokusumo tidak mau
menghadap ayahnya dalam pertemuan kerajaan dan hanya bermain adu burung
puyuh sakti . Selanjutnya dalam perjalanan ke arah barat sampai di
suatu tempat, Nyi Putri Galuhwati merasa haus minta minum dan Pangeran
Joyokusumo kemudian menancapkan keris Panubiru miliknya lalu muncullah
air dari bekas tancapan keris tersebut, dan daerah tersebut dinamakan
BANYUURIP Bahasa Daerah : JAWA Koordinat Geografis : 7°45'36" LS
109°58'23" BT Keterangan : ketinggian 44 mdpl
Potensi wilayah
- Pertanian padi
- Makanan khas srabi, gayam
- Minuman khas teh teko
- Batik tulis (romo ngarak)
- Kesenian kuda lumping (langen suko rahayu)
- Kesenian rebana (nurul huda dan al ashrof)
Unsur alami yang menonjol
- Sumur Beji (berasal dari tancapan keris Panubiru milik Pangeran Joyokusumo karena Nyi Putri Galuhwati haus minta minum, asal mula nama Banyuurip karena dari tancapan keris muncul air, dinamakan beji yang berarti sumur)
- Goa Tritis (tempat berkarya Empu Suradahana berada di tebing/ tritis)
- Goa Siwunung (konon dulu tempat peminjaman gamelan secara gaib, dinamakan siwunung karena gamelan tersebut kalau dipinjam datang dengan sendirinya dan kembali dengan sendirinya juga, dan menjadi kediaman Syeh Wunung makanya dinamakan siwunung)
Unsur buatan yang menonjol
- Punden Parigi (petilasan dan tempat muksa Pangeran Joyokusumo dan sampai sekarang banyak dikunjungi sebagai tempat menyepi juga setiap tahun sebagai tempat Merti Desa dengan kegiatan pentas wayang kulit)
- Masjid Banyuurip (dibangun Ki Guru Wonosalam)sekarang disebut masjid besar kecamatan Banyuurip
- Pasar Senin (tempat bermain/pasaran Nyi Putri Galuhwati dan hanya pada hari Senin, sampai sekarang masih dipercaya sebagai tempat “midhang” bagi orang yang sembuh dari sakit ataupun terkabul hajatnya)
- Sumur Tinatah (dibuat oleh Ki Manguyu untuk mandi Nyi Putri Galuhwati waktu hamil dengan tujuan kalau lahir putra kelak tampan dan lahir putri kelak cantik, sekarang banyak diambil airnya untuk syarat 7 bulanan orang hamil dan untuk siraman calon pengantin, dinamakan tinatah karena buatan tangan atau dengan istilah ditatah)
- Makam Gedhe (makam Nyi Putri Galuhwati dan Ki Manguyu)
- Kolam Masjid (dibangun Ki Guru Wonosalam, dahulu sebagai tempat berwudlu yang airnya tidak pernah kering)
Sejarah kepemimpinan dan tokoh
- Djojosoeponto (1916-1942)
- Tjokrodihardjo (1942-1943)
- Bondan Djojomihardjo (1943-1944)
- Abdul Mutholib (Dulud) Soerodihardjo (1944-1945)
- Sastrowigeno Koewoso (1945-1951)
- Danuwidjojo Saat (1953-1954)
- Rs. Darmosoewito (1954-1975)
- Ag. Sukiman (1975-1990)
- Drs. H. Saiful Anwar (1990-1999)
- Bambang Suryono (1999-2007)
- Paulus Purnomo (2007-2013)
- Bambang Suryono (2013 s/d sekarang)
Tokoh Banyuurip (berkiprah nasional)
- Haji Winoto Danoeasmoro = Kepala Rumah Tangga Presiden Soekarno (makam di komplek Masjid Banyuurip)
- HR Soebrantas Siswanto = Mantan Gubernur Riau (makam di Riau)
- H Mardiyanto = Mantan Menteri Dalam Negeri (domisili di Jogjakarta)
- Letkol Soendjono = Mantan Panglima Divisi III Siliwangi (makam di TPU Siwungu)
Daftar Nama Perangkat Desa
- Kades = Bambang Suryono, D1
- Sekdes = Sri Kandiwati, SMEA (PNS : NIP. 196303162007012004)
- Kaur Pemerintahan = Istiawan Hadi Suprapto, D1
- Kaur Umum = Bambang Winarno, STM
- Kaur Keuangan = Budi Yulianto, SMEA
- Kaur Kesra = Riswal Parno, SMA
- Kaur Pembangunan = Hudi Purwoko, SMA
- Kadus Dukuh Wetan = Suyono, SMP
- Kadus Dukuh Kulon = Supriyono, SMP
- Kadus Soroyasan = Sukirman, SMP
- Kadus Kembaran = Maryanti, SMK
- Kadus Jurutengah = Suratman, SMP
- PTL Ili-Ili = Kastono, STM
- P3N = Muhadi, SMA
CAGAR BUDAYA PUNDEN PERIGI
PUNDEN PERIGI
Punden Perigi atau punden batu merupakan bangunan joglo kecil yang berukuran 3,2 m x 3,2 m berlantai ubin putih yang digunakan sebagi tempat pertapaan seorang pangeran yang berasal dari Majapahit (menurut babad Banyu Urip). Di dalam bangunan tersebut terdapat batu bekas tempat duduk Pangeran Joyokusumo, batu lutut, batu dakon, batu lumpang dan sebuah yoni sebagai tempat menampung air untuk membasuh muka (yang oleh sementara orang dipercaya dapat mendatangkan berkah). Pada sebelah barat punden Perigi terdapat bangunan berukuran 8 m x 16 m yang sering digunakan untuk pertunjukan wayang kulit oleh penduduk setempat sehabis panen musim kemarau. Pertunjukan tersebut merupakan ungkapan syukur masyarakat setempat atas keselamatan dan hasil panen yang diperoleh.
Kisah punden Perigi bermula dari terusirnya seorang pangeran dari kerajaan Majapahit. Pada waktu itu yang menjadi raja Majapahit adalah Hayam Wuruk. Dari selir, raja tersebut memiliki seorang putera bernama Pangeran Joyokusumo dan seorang putri bernama Galuhwati. Suatu hari Raja mengadakan rapat besar yang dihadiri oleh para pejabat tinggi kerajaan dan sanak saudara raja, kecuali Pangeran Joyokusumo. Diutusnya Patih Gajahmada untuk mencari Pangeran tersebut. Ketika ditemukan Pangeran tersebut sedang mencari belalang untuk makan burung kesayangannya, yaitu burung puyuh atau gemak. Burung itu diberi nama si Kebrok. Karena kesaktiannya, maka burung tersebut sering diadu dengan burung lain. Konon si Kebrok dapat mengalahkan seekor harimau.
Dengan rasa marah Raja kemudian mengusir putranya Pangeran Joyokusumo. Dengan susah hati, Pangeran tersebut beserta adiknya yang masih kecil, yaitu Galuhwati meninggalkan Majapahit menuju ke arah barat. Siang malam kedua kakak beradik tersebut melintasi hutan belantara dan suatu ketika sampai di daerah ini. Karena kehausan, adiknya yaitu Galuhwati minta air. Seketika Pangeran Joyokusumo mencabut keris pusakanya yang bernama Kyai Dhalang (versi lain menyatakan bernama Panubiru) dan menancapkannya ke tanah sehingga keluar air. Air tersebut kemudian digunakan untuk minum dan mandi. Karena air itu menyegarkan kembali dan memberi kehidupan (urip) pada warga sekitarnya, maka daerah tersebut diberi nama Banyu Urip. Tempat pertapaan Pangeran Joyokusumo disebut Punden Perigi, yang berarti dimurugi (didatangi dari jauh yaitu Majapahit) menuju tempat itu.Punden Perigi yang ada di desa Banyuurip kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo memiliki bentuk 4 persegi panjang, dengan kedua sisi panjang dibagian utara dan selatan , sedang sisi yang lebih pendek terletak dibagian barat dan timur dengan ukuran 10,6 m x 6,3 m. Keempat dinding teras disusun dari bongkahan-bongkahan batuan andesit dengan tebal 1,1 m dan tinggi 45 cm. Dimuka dinding selatan dari bangunan tersebut terdapat pohon kecacil yang sangat rindang. Disamping itu pula pada arah barat yang tidak jauh dari punden Perigi terdapat dua buah sumur tua yang oleh masyarakat setempat dinamakan Beji dan Pinatak. Yang oleh masyarakat sampai sekarang diyakini bahwa kedua air sumur itu bila dicampur dan dimasukkan pada yoni yang ada di Perigi dapat mendatangkan sawab/tuah bagi yang mempercayainya.
PASAR SENIN
Keindahan Pasar Senen dengan pesonanyayang terletak diantara 3 pedukuhan yaitu juru tengah,soroyasan dan kembaran, mempunyai arti tersendiri bagi para penduduk dan putro wayah desa banyuurip.
Langganan:
Komentar (Atom)
















